Terkait BSI Mobile Eror, Ahli Keamanan Siber Sebut Hacker Incar Reputasi Bank

EKISNEWS – Aplikasi perbankan milik PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI mengalami gangguan sejak Senin malam (8/5) hingga Selasa (9/5) tadi.

Ahli keamanan siber menilai gangguan sistem perbankan tersebut terjadi karena paralisis siber yang mengarah pada destruksi reputasi perusahaan.

Manajemen BSI menginformasikan gangguan pada jaringan terjadi karena adanya perbaikan sistem perbankan.

Bacaan Lainnya

“Pada kesempatan ini kami sampaikan bahwa BSI tengah melakukan maintenance (perbaikan) sistem, sehingga tidak dapat diakses sementara waktu dan akan kembali ke kondisi normal secepatnya,” kata manajemen BSI pada Selasa pagi (9/5).

Dalam perkembangannya, sistem perbankan pada aplikasi BSI Mobile dan 1.200 unit ATM BSI akhirnya pulih. Kantor-kantor BSI juga kembali beroperasi secara bertahap.

Menanggapi gangguan yang terjadi pada sistem perbankan, Pakar Keamanan Siber sekaligus Ketua Indonesia Cyber Security Forum atau ICSF Ardi Sutedja mengatakan, gangguan terindikasi diakibatkan oleh paralisis siber.

Menurut dia, simtom paralisis siber merupakan tipikal serangan siber yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, biasanya menjelang pengujung pekan atau hari libur.

“Walaupun untuk memastikanya perlu audit forensik digital yang menghabiskan waktu,” ujar Ardi kepada Katadata, Selasa (9/5).

Pria yang juga menjabat Principal Chief Executive Officer (CEO) Indonesia Cyber Services itu menjelaskan gangguan ini disebut sebagai paralisis karena bersifat melumpuhkan dan mengarah pada destruksi reputasi.

“Bentuk paralisis bisa beragam,” katanya.

Menurut Ardi, setiap paralisis siber yang terjadi di semua industri pasti memiliki beragam risiko, baik untuk institusi maupun pelanggannya.

Untuk industri perbankan, risiko yang muncul akibat paralisis ini bisa berupa, gagal menarik dana untuk waktu tertentu yang berimbas pada kekecewaan dan kemarahan nasabah. Pada akhirnya, hal ini bisa membuat nasabah menarik dananya.

Terkait penyebab paralisis siber, kondisi ini merupakan masalah klasik yang terkait dengan kebiasaan manusia.

“Jadi bukan bergantung dari teknologi,” ujarnya.

Pencegahan bisa dilakukan melalui upaya kedisiplinan manusia yang mengelola sistem perbankan tersebut.

-----------

Simak berita pilihan dan terkini lainnya di Google News

Pos terkait