BI Prediksi Suku Bunga The Fed Bakal Naik ke 4,75 Persen

federal-reserve-building

EKISNEWS – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo memprediksi Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) masih akan terus menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate).

Bahkan, kenaikannya diprediksi bisa menyentuh 4,75 persen pada kuartal I-2023.

“Perkiraan-perkiraan kami Fed Fund Rate masih akan meningkat 4,5 persen. Dan mungkin Januari atau Februari, atau paling tidak triwulan I tahun depan itu 4,75 persen,” kata Perry dalam konferensi pers hasil rapat dewan gubernur (RDG) BI, Kamis (20/10/2022).

Bacaan Lainnya

1. Suku Bunga Acuan The Fed Diprediksi Naik Signifikan Bulan Depan

BI sendiri memproyeksi di November mendatang, The Fed akan menaikkan suku bunga acuan hingga 75 basis poin (bps). Saat ini, suku bunga acuan AS erada di kisaran 3-3,25 poin.

“Ada kemungkinan di November masih naik 75 bps lagi,” tutur Perry.

2. Tingkat Kenaikan Suku Bunga Acuan AS Diprediksi Makin Rendah

Meski begitu, BI memprediksi tingkat kenaikan suku bunga acuan AS akan menurun secara bertahap. Sepanjang 2022 ini, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 5 kali, di mana tiga di antaranya merupakan kenaikan sebesar 75 bps.

“Tapi kalau kita lihat tingkat kenaikan semakin lama semakin rendah,” ucap Perry.

3. BI Naikkan Suku Bunga Acuan buat Tekan Inflasi dan Jaga Kurs Rupiah

Hari ini, BI sendiri menetapkan kenaikan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 bps menjadi 4,75 persen.

Kenaikan suku bunga acuan kali ini merupakan yang ketiga kalinya di 2022, di mana pada 23 Agustus 2022 lalu BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis bps menjadi 3,75 persen, dan pada 21 September 2022 lalu naik 50 bps menjadi 4,25 persen.

Perry mengatakan, kenaikan suku bunga acuan ini dilakukan untuk mengembalikan tingkat inflasi di Indonesia.

“Keputusan kenaikan suku bunga tersebut sebagai langkah front loaded, pre-emptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi atau overshoothing, dan memastikan inflasi inti ke depan kembali ke sasaran 3 persen plus minus 1 persen lebih awal, yaitu ke paruh pertama 2023,” tutur Perry.

Selain itu, kenaikan suku bunga acuan juga diperlukan untuk mengendalikan stabilitas nilai tukar rupiah yang terus melemah akan dolar Amerika Serikat (AS), bahkan melebihi Rp15.500 per dolar AS.

“Serta memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya akibat semakin kuatnya mata uang dolar AS dan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global di tengah peningkatan permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat,” kata dia.

(rel)

-----------

Simak berita pilihan dan terkini lainnya di Google News

Pos terkait