Arabian Town; Ekonomi Wakaf di Kawasan Bersejarah Empang

Sejumlah warga, ulama, dan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Bogor mengikuti peringatan Haul Raden Saleh ke-142 di Makam Raden Saleh Sjarif Bustaman, Kelurahan Empang, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/6/2022). Peringatan haul maestro | ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

Oleh SHABRINA ZAKARIA

Pemerintah Kota Bogor akan membangun kawasan Arabian Town di Lapangan Empang yang berada di Jalan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat.

Sekretaris Daerah Kota Bogor Syarifah Sofiah menjelaskan, rencana pembangunan kawasan Arabian Town ini sudah dicanangkan beberapa tahun sebelumnya. Hanya saja, pembangunannya belum terlaksana lantaran belum ada Nazir atau badan hukum yang terbentuk untuk mengelola tanah wakaf tersebut.

“Alhamdulillah sudah terbentuk Nazirnya dan dari Badan Wakaf Indonesia sudah keluar SK Nazirnya,ini menjadi jaminan kalau Nazir ini sah,” ujar Syarifah, Kamis (4/5/2023).

Bacaan Lainnya

Syarifah mengatakan, nazir yang sah ini penting mengingat lapangan Empang merupakan tanah wakaf. Nazir merupakan institusi atau individu yang berhak mengelola harta wakaf, baik untuk mengurusnya, memelihara dan mendistribusikan hasil wakaf kepada orang yang berhak menerimanya. Nazir juga dapat mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan harta itu tumbuh dengan baik dan kekal.

“Pihak Nazir sudah bersurat ke Wali Kota Bogor agar Pemerintah Kota Bogor bisa memfasilitasi pengembangan kawasan ini. Pemkot Bogor pun membantu memfasilitasi dengan menggandeng investor atau mencari CSR dari perusahaan serta melibatkan BJB, karena ini tanah wakaf tidak bisa pakai APBD,” ujar dia.

Pengembangan kawasan bertema Arabian Town ini akan menjadi pusat pengembangan baru di Kota Bogor selain Suryakencana. Menurut dia, pembangunan kawasan tersebut memerlukan pendanaan tidak sedikit. Apalagi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor juga sudah membuat master plan untuk kawasan Arabian Town.

“Desain kawasan ini akan dibahas bersama. Dari Pemkot memang ingin menjadikan kawasan ini Arabian Town dengan ornamen lampu-lampu khas Arabian, kulinernya juga khas Arabian,” jelasnya.

Syarifah menilai, kawasan Empang ini merupakan kawasan yang memiliki potensi besar apalagi ketika ada acara keagamaan atau hari besar Islam yang mana bisa mendatangkan tamu sangat banyak.

Menurut dia, lebih baik jika memiliki fasilitas yang bagus dan rapi. Apalagi terkhusus lapangan ini, wasiat para wakif yang mewakafkan tanah tersebut harus bisa bermanfaat untuk ekonomi umat, terutama untuk Masjid Agung At-Thohiriyyah.

“Jadi hasil dari ini bisa untuk masjid, untuk UMKM alias untuk umat. Sementara sekarang belum ada penghasilan apapun. Kalau kami, Pemkot Bogor yang terpenting kawasan ini tumbuh, karena tugas kami kan mensejahterakan masyarakat dengan memfasilitasi seperti ini, menghubungkan Nazir dengan perusahaan yang mau memberikan CSR,” katanya.

Kawasan Empang merupakan salah satu kampung atau pemukiman awal yang menjadi inti dari pertumbuhan Kota Bogor. Sejarah perkembangan kawasan yang cukup panjang serta adanya akulturasi budaya antara etnis Sunda dan etnis Arab sejak masa Kolonial Belanda menjadikan kawasan Empang sebagai kawasan pemukiman yang memiliki karakter khas dan keunikan budaya yang berbeda dengan pemukiman lain yang terdapat di Kota Bogor.

Awalnya, kawasan Empang merupakan bagian dari sebuah alun-alun luar Kota Pakuan yang membentang dari tepi Sungai Cisadane sampai ke Cipakancilan. Sejak masa Pemerintahan Belanda, kawasan Empang mulai membentuk pola-pola ruang yang menjadi dasar perkembangan kawasan selanjutnya.

Tahun 1754, pemerintah kolonial Belanda menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Karesidenan Kampung Baru. Kebijakan wijkenstelsel mengkhususkan kawasan ini sebagai pemukiman bagi masyarakat etnis Arab.

Pada masa sekarang, kawasan Empang berkembang sebagai kawasan pemukiman dan perdagangan dengan nilai sejarah penting bagi perkembangan Kota Bogor serta memiliki potensi budaya khas yang dapat dilihat pada keragaman corak arsitektur, aktivitas budaya dan keagamaan. Kawasan ini juga memiliki aktivitas ekonomi yang kental dengan kebudayaan masyarakat Arab.

Masjid At-Thohiriyah terletak di sisi timur lapangan (alun-alun) Kampung Empang. Budayawan Betawi Almarhum Abah Alwi Shihab pernah menulis betapa bersejarah masjid tersebut bagi perkembangan Islam di kota hujan. Berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 750 meter persegi, masjid ini lebih dikenal dengan sebutan Masjid Agung Empang. Masjid ini memiliki sejarah panjang karena dibangun pada 1817 atau hampir dua abad silam.

Masjid berbentuk joglo (panggung) ini merupakan masjid pertama di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Saat itu, Empang merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Bogor dan tempat kediaman bupati Bogor.

Kedudukan bupati Bogor ketika itu sebagai pimpinan pemerintahan dan pimpinan urusan agama Islam di Kota Bogor, yang salah satunya adalah Dalem Suryawinata (RH Mohamad Siradz). Di samping sebagai bupati, ia dikenal juga sebagai pimpinan umat Islam di Bogor.

Pos terkait